Wednesday, January 26, 2011

Belajar dari Ahlinya untuk Urusan Cinta


Malam ini Ahli Romansa akan memberikan contoh seseorang yang sangat ahli dalam menaklukan perempuan. Walaupun demikian dia tidak dikenal sebagai Ahli Romansa, dia dikenal sebagai proklamator NKRI. saya lampirkan tulisan beliau dalam bukunya "Penyambung Lidah Rakyat" yang entah bagaimana sulit dicari. Besok kita analisa sebetulnya bagaimana pribadinya bisa memikat banyak wanita.

Orang bertanja, "Sukarno, apakah engkau tidak merasa tersinggung bila orang mengeritikmu ?" Sudah tentu aku merasa tersinggung. Aku bentji dimaki orang. Bukankah aku bersifat manusia seperti djuga setiap manusia lainnja ? Bahkan kalau engkau melukai seorang Kepala Negara, ia akan lemah. Tentu aku ingin disenangi orang. Aku mempunjai ego. Itu kuakui. Tapi tak seorangpun tanpa ego dapat menjatukan 10.000 pulau-pulau mendjadi satu Kebangsaan. Dan aku angkuh. Siapa pula jang tidak angkuh ? Bukankah setiap orang jang membatja buku ini ingin mendapat pudjian ?

Aku teringat akan suatu hari, ketika aku menghadapi dua buah laporan jang bertentangan tentang diriku. Kadang-kadang seorang Kepala Pemerintahan tidak tahu, mana jang harus dipertjajainja. Jang pertama berasal dari madjalah "Look". "Look" menjatakan, bahwa rakjat Indonesia semua menentangku. Madjalah ini memuat sebuah tulisan mengenai seorang tukang betja jang mengatakan seakan-akan segala sesuatu di
Indonesia sangat menjedihkan keadaannja dan orang-orang kampungpun sekarang sudah muak terhadap Sukarno.

Kusudahi membatja artikel itu pada djam lima sore dan tepat pada waktu aku telah siap hendak berdjalandjalan selama setengah djam, seperti biasanja kulakukan dalam lingkungan istana-inilah satu-satunja matjam gerak badan bagiku, seorang pedjabat polisi jang sangat gugup dibawa masuk. Sambil berdjalan kutanjakan kepadanja, apa jang sedang dipikirkannja."Ja, Pak," ia memulai, "Sebenarnja kabar baik." "Apa
maksudmu dengan sebenarnja kabar baik ?" tanjaku. "Ja," katanja, "Rakjat sangat menghargai Bapak. Mereka mentjintai Bapak. Dan terutama rakjat-djelata. Saja mengetahui, karena saja baru menjaksikan sendiri suatu keadaan jang menundjukkan penghargaan terhadap Bapak. Kemudian ia berhenti. "Teruslah," desakku, "Katakan padaku.

Darimana engkau dan siapa jang kautemui dan apa jang mereka lakukan ?" "Begini, Pak," ia mulai lagi. "Kita mempunjai suatu daerah, dimana perempuan-perempuan latjur semua ditempatkan setjara berurutan. Kami memeriksa daerah itu dalam waktu-waktu tertentu, karena sudah mendjadi tugas kami untuk mengadakan pengawasan tetap. Kemarin suatu kelompok memeriksa keadaan mereka dan Bapak tahu apa jang mereka
temui - Mereka menjaksikan potret Bapak, Pak. Digantungkan didinding." "Dimana aku digantungkan ?" tanjaku kepadanja. "Ditiap kamar, Pak. Ditiap kamar terdapat, sudah barang tentu, sebuah tempat-tidur. Dekat tiap randjang ada medja dan tepat diatas medja itu disitulah gambar Bapak digantungkan "

Dengan gugup ia mengintai kepadaku sambil menunggu perintah. "Pak, kami merasa bahagia karena rakjat kita memuliakan Bapak, tapi dalam hal ini kami masih ragu apakah wadjar kalau gambar Presiden kita digantungkan didinding rumah pelatjuran. Apa jang harus kami kerdjakan ? Apakah akan kami pindahkan gambar Bapak dari dinding-dinding itu ?" "Tidak," djawabku. "Biarkanlah aku disana. Biarkan mataku jang tua
dan letih itu memandangnja!

saya memang sengaja mempertahankan ejaan lama agar lebih terasa nuansa Tempo Doloe. AhliRomansa ingin kita belajar dari beliau bagaimana seorang seperti beliau, mudah mendapatkan perempuan. besok kita kupas pribadinya

regards,
Ahli Romansa

Tuesday, January 25, 2011

Walaupun Bajingan, Dimohon untuk Tidak Menyusahkan Anak Anda

Setelah seminggu Ahli Romansa bertugas di luar kota, saatnya kembali menulis di blog ini. Entah mengapa semester ini Ahli Romansa diminta untuk mengajar mata kuliah Psikologi Perkembangan Anak pada semester ini. Sebelumnya Ahli Romansa muak dan cenderung jaga jarak dengan hal-hal yang berbau anak kecil, namun seiring jalannya waktu, tepaksa Ahli Romansa harus mulai untuk memahami perkembangan anak sebagai tugas sebagai pengajar. Apakah anda tahu betapa peran sosok orang tua akan mengakibatkan segala hal pada perkembangan mental anak? Betul lho, nggak boong

Seorang anak, memiliki tahapan perkembangan yang bertingkat. Mulai dari ngiler dan Pub aja, sampai bisa main PS. Ironisnya, setiap tahapan akan mempengaruhi tahapan berikutnya. Bukannya menakut-nakuti, tapi peran orang tua, baik ayah atau ibu akan membentuk karakternya di kemudian hari. Jadi jika nanti anak anda menginjak remaja dan dia lebih suka dengan sesama jenis jangan salahkan anak anda, salahkan diri anda.

Dalam membesarkan anak, manusia sudah diberikan sebuah “blueprint” . oleh karena itu, hampir semua orang pasti merasa gemas, “iiihh lucunya” pada tiap bayi yang ditemui. Itu salah satu blueprint sikap manusia terhadap bayi. Sayangnya pria tidak memiliki blueprint yang komplit dalam merawat anak. Wanita lebih memiliki blueprint yang komplit bagaimana sebaiknya anaknya diperlakukan. Seorang pria pasti bingung kenapa seorang anak menangis, tapi seorang wanita, bias dengan ajaib membedakan tangisan karena popoknya basah atau karena lapar. *itu semua contoh
Lalu kalo blueprint tidak komplit, apa peran ayah? Secara biologis? Hampir gak ada. Tugas anda sudah selesai sejak di kasur. Namun secara social banyak peran yang harus anda emban. Minimal, tidak membuat sang ibu/pasangan anda gusar sehingga perhatian sang ibu lebih teralokasi untuk mengurusi hubungannya ketimbang anaknya. Anda berhasil membuat istri/pasangan anda tidak gusar, tapi giliran anda yang gelisah karena ”petualangan” anda kok jadi terhambat

Pada dasarnya AhliRomansa tidak menganjurkan anda bertualang lagi kalo punya anak. Tapi kalo naluri petualang anda sudah nggak bias dibendung setidaknya tunggu sampai anak anda masuk SD (setidaknya si anak ada kesibukan kalo orangtuanya berkelahi atau berbuat aneh2) Perlunya menunggu sampai anak masuk SD karena, pertumbuhan mental paling fundamental terjadi dari 0-6tahun. Perkembangan mental anak bisa optimal jika ada dukungan penuh dari ayah dan ibu yang mengawal perkembangan anak. Tapi kalo anda sudah nggak sabar jadi bajingan, tenang saja Ahli Romansa selalu punya solusi.

Pria mana yang tidak mulai gerah dengan perilaku istri yang punya anak? Semua perhatian istri tercurah sama anak. Sudah puasa 40 hari, terus ketika si bayi lahir, istri jadi ogah-ogahan. Ketika panggilan alam sudah diubun-ubun rasanya jadi putus asa. Tenang saja, anda bisa kok cari “sayur lodeh” ketika sayur asem di rumah lagi bener-bener asem. Tapi ada batasan yang jelas tidak boleh anda langgar. Batasannya adalah: tolong jangan sampai ketahuan anda jajan sayur lodeh diluar. Kalo ketahuan setidaknya jangan berkelahi dengan istri dan kedengaran anak. Kalo istri tidak memaafkan anda setidaknya jangan sampai pisah rumah, pisah ranjang aja (asik juga kan anda bisa cari ranjang baru lengap dengan teman barunya)paling penting, walaupun istri benci anda setengah mati, jangan sampai merusak mood dan tidak bermain lagi dengan sang anak.

Walaupun anda bukan suami yang baik, setidaknya jangan jadi ayah yang bajingan. Efek samping dari gagalnya figure ayah (selain dari sisi ekonomis) pada anak itu banyak seperti: gay/lesbian. Tidak bisa disiplin, nggak ada tanggung jawab. Nggak bisa diatur, mau seenaknya aja. Tentu saja masih banyak lagi, merasa tidak diinginkan, sulit berkomitmen (baik romantic/professional). Jadi mintalah ijin sama istri anda, kalau anda dilarang oleh istri/pasangan anda mengurus anak anda, perjuangkanlah!! figure ayah itu penting dalam perkembangan anak. Setelah anak masuk SD baru opsi berpisah bisa digelontorkan.

Regards,
AhliRomansa

Friday, January 14, 2011

Menyenangkan Bisa Jadi Dewasa (banget!!!) part 2


Yah hari ini Ahli Romansa akan melanjutkan dari beberpa alasan menjadi dewasa itu menyenangkan. Bahkan begitu menyenangkan untuk mencari pasangan. Baik untuk serius, maupun untuk jadi bahan permainan.

Mari lanjut ke permasalahan ke tiga. Pria/perempuan dewasa merasa tidak layak bertingkah “gila” dalam hal ini mencoba hal-hal baru dan menantang karena malu sama umur.. ini juga aneh banget. Kalo diumur duapuluhan dan tigapuluhan anda tidak bereksplorasi mencari kesenangan yang agak ekstrim anda mau nyoba kapan? Umur 50 tahun? Ketika anda umur 50 tahun, anda naik kora-kora di dufan saja, anda bisa mati kena serangan jantung. Jadi ketika badan masih sehat dan energi melimpah, gak ada itu istilah malu ama umur untuk hal-hal baru. Mana yang lebih membanggakan ketika anda sudah punya cucu nanti? Bercerita banyak pengalaman menarik, atau hanya bercerita yang isinya “seharusnya” alias berharap sang cucu meneruskan cita-cita yang gak kesampaian. Menyedihkan. Semata-mata karena malu sama umur.

Nah itu semua permasalahan yang biasa dikemukakan, sekarang coba pola pikirnya dibalik semua yuk. Jadi dewasa, adalah ketika dimana waktu anda yang kontrol. Lah bener, anda nggak wajib duduk di kelas kan? Nah kemudian anda mulai berkilah, kan saya harus ngantor. Saya tantang balik, memang bekerja jamnya rigid & kaku seperti anak sekolahan? Nggak andayang kontrol waktunya. Kalau pekerjaan sudah menyita waktu anda, yah cari pekerjaan yang nggak menyita waktu. Mana mungkin? Mungkin banget, Ahli Romansa salah satu contohnya, dengan bekerja hanya 4 jam sehari saya bisa menghasilkan pendapatan yang cukup untuk biaya makan, transport dan tempat tinggal, tidak mewah tapi layak. Please deh jangan manja dan nyalahin lingkungan. Kalo anda masih bisa bilang bahwa “lah itu kan AhliRomansa, saya mana mungkin”.. brur, saya juga makan nasi yang membedakan, saya berani memilih untuk menjadi subyek hidup saya sendiri. Kata steven covey, pro aktif.

Masalah kedua, nggak punya duit. Aduh bos, anda udah bekerja, berarti anda punya duit. Waktu SMU dulu anda nggak punya duit, karena nodong orang tua. Setiap nodong, selalu ditanya, duitnya buat apa? Sekarang anda udah bekerja, maka duit kuasa ditangan kuasa anda sepenuhnya. Mau beli bir, mau beli kondom, mau ke bar dan mabuk sampe terkapar di trotoar, bebas. Coba waktu SMU, “Pa, minta duit buat mabuk?” ada juga anda ditampar oleh ayah anda. Anda punya duit, jauh lebih banyak ketika anda sekolah. Sialnya, yang bikin pusing mengatur duitnya. Gini brur, kebutuhan manusia itu nggak ada abisnya, contoh, pengen punya HP, dapet huawey, terus pengen nokia, terus pengen Black Berry, terus pengen Iphone, nggak berbatas brur. Sehingga anda harus bisa mengatur kebutuhan anda. Penghasilan setara UMR tapi tiap hari makan di McD gak nyambung. Sehingga anda lagi-lagi harus mengolah diri anda sedemikian rupa, agar kebutuhan bisa cukup dengan slip gaji anda. Saya setuju bahwa harga-harga di Indonesia makin nggak masuk akal, tapi terus kita mau ngambeg dan tidak melakukan sesuatu? Kalo itu yang anda pilih, anda berlagak dewasa saja.

Takut bertingkah gila ini alasan anda karena takut keluar dari zona nyaman. Enak banget brur berbuat gila waktu dewasa, kalo anda berantem, anda tinggal bayar polisi, nggak ada itu pertanyaan “orang tua kamu mana?” gak perlu malu dengan orang tua. Mau mencoba bisnis dan bangkrut, anda nggak perlu pusing orang lain menanggung, dan dengan kegigihan anda pasti bisa bangkit kembali. Kalo anda bisa membalik pola pikir anda dan bertanggung jawab terhadap tindakan anda, segila apapun tindakan anda, maka tidak ada sesal yang harus timbul di hati. Tidak ada penyesalan itu sangat lekat dengan kebahagian dan kebahagiaan adalah kunci dengan cinta.

jadi masih berpikir jadi dewasa itu berat??

Regards
AhliRomansa