Pada umumnya, AM memiliki behavioral inhibition (hambatan dalam perilaku) dalam hal ini saat tes yang mengarah pada bentuk ketakutan, tingkat kegelisahan, guardedness terhadap ujian masuk ketentaraan. Hal tersebut melibatkan kemungkinan dilakukan penilaian oleh orang lain, dan keinginan untuk selamat atau menghindari keadaan yang dapat menunjukkan kekurangannya. Pada dewasa muda, pemunculan kegelisahan sering dipersepsikan sebaggai rasa takut dari penilaian yang negative, tekanan social dan penarikan diri dari lingkungan social. Pemunculan kegelisahan umumnya muncul dari bermacam interaksi komponen psikologis dalam diri AM.
AM dapat menjadi sangat cemas ketika terlibat dalam ujian masuk tentara tapi tidak pernah terjadi di saat yang lain. (anamnesa) Kecenderungan serangan cemas yang situasional menunjukkan untuk menyerang pribadi tapi tidak secara keseluruhan dapat diprediksi atau dihubungkan pada rangsangan tertentu. (APA, 1994, 2000). Keluhan penderita yang memiliki phobia social dan kegelisahan yang tinggi yaitu memliki detak jantung yang cepat, napas yang tersennggal-senggal, gemetar, berkeringat dan gugup. (keluhan subyek)
Namun melihat hasil tes, walaupun gangguan kecemasan yang muncul sebagai keluhan, namun sebetulnya S tidak mengalami gangguan kecemasan. Hal ini dilihat dari tes yang memiliki PIQ lebih tinggi dari VIQ sehingga untuk diagnose gangguan kecemasan terutama phobia social tidak dapat ditegakan. PIQ lebih tinggi menandakan bahwa S tidak punya masalah dalam berinteraksi. Melihat jawaban pada ro yang tinggi pada F dan tidak munculnya jawaban tertentu memunculkan hipotesis bahwa S menderita gangguan. Hipotesis ini diperkuat dengan teeyang berupa stick figure. Hipotesis ini kemudian berkembang menjadi gangguan apakah yang diderita subyek. Melihat dari jawaban warna dan shading, serta rigid pada jawaban F memunculkan hipotesa gangguan kepribadian kompulsi. Hipotesa ini kemudian dijabarkan dengan melihat bahwa sebetulnya S memiliki kepekaan terhadap warna nampak dari waktu reaksi pada kartu warna lebih dari kartu achromatic. Selain itu dari testing the limit juga menunjukan bahwa S mengakui dirinya tidak menggunakan warna dalam jawabnya. Begitu juga untuk jawaban shading.
Hipotesa ini berlanjut bagaimanakah, orang lebih memilih menggunakan control rasio ketimbang reaksi-reaksi emosional dan afek dari lingkungan. Tentu saja hal ini dikarenakan S merasakan lebih untung untuk menggunakan control rasio dengan ketat ketimbang menampilkan kebutuhan-kebutuhan yang lain. Sebetulnya S cukup emosional, hal ini dilihat dari grafiktee yang memiliki fluktuasi yang cukup tinggi. Namun reaksi emosi tersebut tidak ditampilkan dalaam tees. Oleh karena itumuncul pertanyaan, kenapa kebutuhan emosi ini tidak ditampilkan oleh S dan lebih memilih untuk menekan dengan control rasio. Melihat dari hasil tes nampak jawaban, jawaban yang mengarah kepada kepribadian kompulsi, yakni kesan bahwa S mengejar kesempurnaan dan memberikan yang terbaik. Dengan data -data tes tersebut kemudian dicocokan dengan data anamnesa. Data anamnesa menujukan bahwa S merupakan anak bungsu yang selalu mendapatkan perhatian dari keluarga besarnya. Hal ini membuat dirinya merasa selalu kecil. Dugaan ini muncul dari gambar yang kecil pada stick figure. Merasa kecil padahal dirinya mampu dan bisa menyelesaikan segala permasalahan sendiri hal ini dilihat dari besarnya FIQ yang dimiliki oleh S beserta OIQ yang tinggi. Perasaan kecil membuat S lebih baik menerima segala sesuatu yang ada dilingkungan karena lebih aman ketimbang menampilkan kebutuhan-kebutuhannya termasuk kebutuhan menampilkan emosi. Kemudian ada data-data yang bertentangan, bahwa dirinya bisa melakukan kenakalan seperti mengerjai adik kelasnya dan mengerjai guru dikelas. Melihat lebih jauh ternyata mengerjai adik kelas dilakukan karena posisinya sebagai kakak kelas. Sedangkan dalam kasus mengerjai guru dimana S menaruh kapur di kursi dan membuat kelas tertawa-tawa karena pantat guru blepotan kapur bertujuan memberikan hiburan bagi konsumsi kelas bukan kepuasan dirinya. Oleh karena itu tidak ada upaya untuk menampilkan diri secara terang-terangan dalam diri S. sehingga data bertentangan bahwa dia menonjolkan diri gugur. Melihat data-data anamnesa dan alat tes, kemudian dilakukan kajian literature. Dari data bahwa S menahan kebutuhan emosi dan menampilkan kebutuhan rasio karena lebih menguntungkan. Merasa tidak berani menampilkan kebutuhan diri dan merasa kecil maka mirip dengan kepribadian kompulsi.
Bagi kepribadian kompulsi perasaan yang berlawanan dan oposisi dapat membuat rasa marah, ketidak pastian, dan ketidakamanan yang intens yang harus mereka kekang. Agar bisa seperti itu, mereka menggunakan sebuah strategi pertahanan diri, yang digunakan melebihi dari pola kepribadian yang lain. Disini, para penderita kompulsi memutar balik dorongan agresi dan pemberontakan mereka. Sebagai contoh, ketika dihadapkan pada keadaan yang dapat mengakibatkan perasaan sakit hati bagi kebanyakan orang, para penderita kompulsi mampu menampilkan diri dengan sikap dewasa, rasional dan bijak, dan berhasil untuk membuat keadaan tetap terkendali. Sebagai akibatnya, para penderita kompulsi secara simbolis membersihkan diri mereka dari perasaan malu dan kotor.
Dilihat dari kajian literature nampaknya sesuai dengan S dilihat dari anamnesa dan alat tes yang menunjukan bahwa S mengontrol semua perasaan dengan rasio. Namun agresivitas pada S tidak nampak. Untuk itu melihat secara kualitatif pada kartu tes yakni kartu yang membahas mengenai agresifitas menunjukkan bahwa S menampilkan agresivitas yang disublimasi menjadi sesuatu yang religious dilihat dari jawabn pada tes. Selain itu agresivitas juga ditampilkan dalam jawaban ujung gunting. Oleh karena itu dapat ditarik kesimpulan bahwa S bahwa reaksi emosi tidak ditampilkan karena takut menampilkan agresi. Hal ini terjadi karena S takut untuk menampilkan agresivitas karena merasa kecil yang disebabkan dirinya selalu diperlakukan sebagai bungsu yang tidak bisa apa-apa. oleh karena itu meredam tampilan itu selalu dengan control rasio agar dirinya selalu nampak bersih dan menyenangkan bagi lingkungan.
Dari kajian literature juga menyatakan bahwa kompulsi mengunakan pertahan diri displacemen terhadap rasa marah dan ketidak amandan dengan mencari posisi yang secara social aman. Hal ini nampak pada perilaku S yang mengerjai adik kelas dan gurunya. Menampilkan sosok kakak kelas untuk mengerjai adik kelas karena posisinya aman, kemudian mengerjai guru sebagai bagian dari kelas. Selain itu S juga berprestasi dalam hal-hal olah raga, osis dan kesenian. Hal ini dilakukan S untuk melakukan displacemen terhadap dorongannya yang besar, tampak dari jumlah skorr tess yang besar. Karena S tidak bisa menampilkan dorongannya di rumah maka S mendisplace dorongan-dorongannya dengan berprestasi diluar sekolah
Walaupun para penderita kompulsi dapat mengendalikan diri sendiri secara intens, mereka terkadang gagal memenuhi standar mereka sendiri sehingga mengalami penolakan dan rasa kecewa dari figure yang memegang kuasa. Ketika pertahanan ego mereka gagal, mereka akan di penuhi oleh perasaan bersalah. Bagi tipe kompulsi perasaan bersalah harus bisa disingkirkan sehingga mekanisme pertahan diri lain diperlukan agar dapat memperbaiki keadaan dimana mereka nampak baik. Pada S ketika dia gagal masuk tentara lewat jalur bintara, dirinya merasa gagal memenuhi standarnya sendiri. S juga merasa ditolak oleh ibunya yang menjadi sakit akibat perbuatan S. Padahal S telah mengatur dirinya masuk jalur bintara yang syaratnya hanya lulusan SMP. Dia berharap mampu bersaing dan lolos karena S sadar dirinya mampu. Karena kegagalan tersebut S merasa bersalah dan perlu segera diatasi. Namun nampaknya S tidak mampu untuk mengatasinya oleh karena itu S mengunjungi poli psikologi untuk mengatasi perasaan bersalahnya.
Melihat keadaan ini nampak bahwa konflik yang paling mendasar adalah adalah antara keinginan orangtua untuk ikut campur dan mengontrol kehidupan anak, dengan perasaan otonomi si anak yang sedang berkembang. Pada masa dewasa mereka berusaha mengumpulkan kembali persetujuan parental yang hilang. Dari sejak awal, mereka di ajarkan untuk mempunyai rasa tanggung jawab yang besar dan juga rasa yang bersalah yang besar ketika mereka tidak dapat memenuhi tanggung jawab tersebut.
Hal ini terjadi pada diri S karena S adalah anak bungsu yang selalu dianggap kecil padahal S memiliki kemampuan untuk mandiri. S berusaha menunjukan diri bahwa dirinya mampu mengemban tanggung jawab dengan prestasi-prestasi akademik dan non akademik yang diraihnya. Namun disisi lain S juga memiliki perasaan bersalah yang besar jika tidak mampu memenuhi tuntutan dari lingkunganya terutama keluarga. Hal ini nampak terutama saat dirinya tidak dapat diterima di kententaraan.
Melihat diri S yang aktif maka dalam rentang kepribadian kompulsi maka S menggunakan, stragegi 'penolakan diri sendiri' dan berjalan dengan cukup baik karena memperbolehkan S untuk meredam dorongan oposisi dan melakukan hal yang baik dan benar. S tampil penuh kendali namun sebetulnya S berusaha secara intens untuk selalu conform dengan lingkungan walaupun berusaha untuk menampilkan kebutuhannya.
Ketika S diharapkan untuk memilih sesuatu, S menjadi ragu-ragu dan menunda-nunda untuk melaksanakan tindakan tersebut S menampilkan perilaku ini dengan tidak melakukan apapun setelah gagal masuk ketentaraan dan memilih mengikuti ujian ketentaraan di tahun berikutnya sebagai upaya untuk menunda memilih jalan hidupnya yang dibebankan kepada diri S usaha menunda ini dikarenakan bagi S situasi masa depan sangat tidak pasti dan mengancam serta tidak aman. S lebih baik mengambil cara yang sudah dia lihat berhasil pada kakak-kakaknya yakni menjadi tentara. Namun S harus mengambil keputusa dikarenakan keluarga S mengharapkan agar S mampu untuk memilih jalan hidupnya sendiri setelah lulus. S menjadi merasa tersiksa dan bingung. Perasaan tersiksa dan bingung beserta perasaan bersalah karena telah gagal masuk ujian ketentaraan sebelumnya membuat S mengalami ketegangan sehingga membuat S mengunjungi poli psikologi agar dirinya mampu megatasi perasaan-perasaan tersebut dan berhasil pada ujian berikutnya.